Hai Langkahku tahu kah kamu bahwa sekarang ini kita memasuki era disrupsi teknologi? Contohnya saja pengaruh pola komunikasi. Dahulu berkomunikasi lebih banyak secara langsung tetapi sekarang dunia ini berubah dengan adanya media sosial. Dengan adanya facebook, twitter, WhatsApp dan media sosial lainnya otomatis cara berkomunikasi secara langsung mulai ditinggalkan. Faktanya lebih dari 30% penduduk dunia menggunakan layanan media sosial untuk berkomunikasi agar tetap update dengan berbagai peristiwa dunia.

Lalu masalah transaksi pembayaran, empat tahun yang lalu mungkin Langkahku sempat berfikir malas menggunakan T-Cash. Dengan sistem deposit, yang mana memasukan sejumlah uang ke dompet elektronik. Berbeda dengan sekarang ini, coba cek gawai Langkahku masing-masing. Pasti aplikasi seperti OVO, Gopay, Dana sudah tertanam kan? Dahulu kita merasa tidak aman karena uang kita takut hilang di dompet elektronik itu, tapi sekarang malah berlomba-lomba untuk mengisi saldo. Nah inilah yang disebut disrupsi.

Apa Itu disrupsi teknologi

Dari tadi kita berbicara masalah disrupsi, dan Gue mau memberi tahu pengertian dari disrupsi itu sendiri. Jadi disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Disrupsi berpotensi menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru. Disrupsi menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien, juga lebih bermanfaat.

Disrupsi dapat terjadi kapan saja, di sektor apapun, dan pengaruhnya terhadap pemain tradisional menjadi sangat signifikan. Sepuluh tahun terakhir ini menjadi masa yang tidak pasti dan menantang bagi organisasi tradisional di setiap industri. Ekonomi digital dapat mebolak-balik pola permainan aturan tradisional. Kalau organisasi tradisional tidak beradaptasi dan melakukan transformasi pasti akan ditinggal. Jadi transformasi digital itu sebuah keharusan. Contohnya saja industri telekomunikasi, kalau ingin tetap aman mereka harus beradaptasi dengan beragam trend baru yang kompleks. Jika tidak, bisa-bisa mereka beresiko sebagai penyedia komoditas murah dan cepat tergantikan.

Ancaman bagi industri telekomunikasi

Pada tanggal 5 Februari 2020, bertempat di Balai Karini , Jakarta Selatan. Gue diundang untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh Indonesia ICT Institute bertajuk Disrupsi Telekomunikasi: Beradaptasi atau Tenggelam. Jadi Indonesia ICT Institute adalah lembaga yang bersama-sama pemangku kepentingan lainnya memajukan sektor Information and Communication Technologies (ICT) Indonesia agar mempunyai manfaat yang lebih luas dan menjadi enabler pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia ICT Institute turut serta bersama memajukan Information and Communication Technologies (ICT) melalui penelitian, konsultasi, pemberdayaan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melibatkan seluruh stakeholder ICT. Hadir sebagai pembicara pada seminar tersebut Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi dan Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsono.

Disrupsi teknologi mengancam keberlangsungan operator telekomunikasi. Bisnis legacy seperti voice dan SMS tidak lagi bisa diandalkan dan mulai tergantikan oleh layanan teknologi digital baru over-the-top (OTT). Disrupsi teknologi mengubah banyak hal, mulai dari bisnis, kompetisi, adopsi dan inovasi teknologi, hingga perubahan organisasi.

Disrupsi tidak bisa dihindari dan harus dihadapi operator telekomunikasi. Supaya tetap bertahan dan bertumbuh, operator telekomunikasi perlu melakukan transformasi yang bertumpu pada tiga aspek, yakni merumuskan kembali visi dan kepemimpinan, inovasi dan adopsi teknologi baru, serta transformasi organisasi dan budaya digital.

Heru Sutadi selaku Direktur Eksekutif ICT Institute

Disrupsi teknologi mengubah banyak hal seperti bisnis, kompetisi, adopsi dan inovasi teknologi serta organisasi perushaan. Perusahaan telekomunikasi harus terus bergerak menghadapi dan melakukan transformasi digital yang bergerak cepat meskipun telah memiliki visi, misi, dan strategi dengan cara masing-masing. Ibaratnya Tidak mau kan? telco hanya mendapatkan separuh roti di tokonya sendiri jika bisa mendapatkan banyak roti di tokonya sendiri.

Bapak Heru Sutadi sedang menganilas operator telekomunikasi di era disrupsi teknologi
Bapak Heru Sutadi sedang menganilas operator telekomunikasi di era disrupsi teknologi /foto: Dokumentasi Pribadi

Langkah awal untuk bisa bersaing di era disrupsi bagi TelCo

Transformasi digital bagi operator telekomunikasi lebih dari sekadar menjalankan bisnis dengan teknologi digital, karena memerlukan adaptasi proses, sistem, dan budaya organisasi. Operator telekomunikasi perlu melakukan transformasi bisnis inti agar menjadi trusted-partner dalam ekosistem digital.

Transformasi operator telekomunikasi harus dimulai dengan perubahan mindset, transformasi dari layanan konvensional menjadi solusi digital, serta efisiensi organisasi yang berfokus menjawab kebutuhan pelanggan secara spesifik, dan bertindak secara lebih cepat. Perusahaan telekomunikasi harus lebih fokus menyediakan layanan-layanan yang simple dan mudah digunakan memanfaatkan teknologi digital

Nonot Harsono selaku Pengamat Telekomunikasi

Industridan perusahaan Platform/Apps/OTT seperti Google, Facebook, Netflix dan apps yang lain telah banyak mendapatkan peluang dan nilai yang sangat besar. Bukan karena mereka meningkatkan skala industrinya, namun karena mereka menciptkan brand yang kuat. Ini karena riset yang mereka lakukan. Jika Google dan Facebook bisa mengetahui segala sesuatu tentang penggunanya, pasti perusahaan telekomunikasi juga bisa dong. Karena semua data itu mengalir melalui jaringan milik para operator. Nah di sinilah peluang para operator untuk bisa mengexplore lebih dan bisa menguasi pasar di negaranya sendiri.

 Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsono sedang menjeaskan tantangan para operator  telekomunikasi di era disrupsi teknologi ini
Pengamat Telekomunikasi Nonot Harsono sedang menjeaskan tantangan para operator telekomunikasi di era disrupsi teknologi ini /foto: Dokumentasi Pribadi

Telkom Grup memblokir Netflix? contoh adaptasi di era disrupsi teknologi?

Seperti yang Langkahku ketahui bahwa sampai saat ini Telkom Grup masih memblokir jaringan untuk layanan Netflix. Padahal pasar dari Netflix di Indonesia cukup besar. Alasan Telkom Grup, mengambil langkah pemblokiran merupakan dukungan terhadap pemerintah selaku regulator agar Netflix segera melakukan pembicaraan untuk kepastian layanan.

“Hingga saat ini kita sangat intens melakukan komunikasi dengan pihak Netflix, kalau ada informasi-informasi yang kurang pas, mereka mampu gak melakukan itu,”

Siti Choiriana selaku Direktur Consumer Service Telkom , dikutip melalui detik.com

Menurut Langkahku ada yang salah dengan sikap Telkom yang merupakan BUMN? Semua jawaban tergantung pandangan masing-masing. Tetapi menurut Pakar kalau melihat era disrupsi saat ini tindakan Telkom seperti Pahlawan. Ketika operator membuka akses ke Netflix atau layanan lainnya, mereka hanya mendapatkan pendapatan dari penggunaan data. Telkom sendiri ingin menghasilkan nilai yang lebih, bukan hanya menjadi penyedia akses. Cocokan seperti yang Gue ibaratkan roti tadi Langkahku? Tapi ini kembali lagi ke pendapatnya masing-masing Langkahku. Apakah sikap Telkom sudah benar atau kurang tepat? Dan inilah era disrupsi.

Kesimpulan

Disrupsi mendorong semakin tingginya adopsi digital di seluruh segmen pelanggan. Disrupsi dapat menjadi ancaman yang cukup berat, namun juga membuka peluang bagi operator telekomunikasi untuk mempercepat transformasinya yang berfokus pada penyediaan layanan digital bagi konsumen dan pelaku bisnis. Kendati demikian, transformasi tersebut sangat bergantung pada kemampuan operator telekomunikasi dalam merespon perubahan. Baca juga contoh disrupsi yang lain di sini

Seminar Disrupsi Telekomunikasi oleh Indonesia ICT Institute
Seminar Disrupsi Telekomunikasi oleh Indonesia ICT Institute /foto: Dokumentasi Pribadi

You might also enjoy:

2 Comments

  1. Dari dulu cuma bisa mengeluh Netflix di blokir bla bla bla.
    Tapi ga pernah mau cari tau kenapa sebabnya haha.
    Well sekarang jadi tahu deh walaupun masih banyak pro kontra dan aku pun bingung harus setuju atau engga.
    Tapi tiap tindakan memang selalu ada konsekuensinya. Apa pun itu hasinya yang penting sudah mencoba, semoga berdampak positif untuk masa depan internet yang lebih sehat.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *